MINATBACA.com – Awang Djohan Bachtiar dikukuhkan sebagai Ketua Persatuan Insinyur Indonesia (PII) Cabang Gresik, periode 2024-2029. Ini merupakan kali kedua, Awang dilantik sebagai Ketua PII Cabang Gresik.
Dalam periode sebelumnya, PII Cabang Gresik yang dikomandoi oleh Awang, berhasil membuat dua unit perahu dari limbah polyurethane foam dan limbah kantong plastik pupuk. Pada agenda pembuatan dua perahu, PII Cabang Gresik berkolaborasi dan mendapat dukungan penuh dari PT Petrokimia Gresik dan Koperasi Konsumen Karyawan Keluarga Besar Petrokimia Gresik (K3PG).
Sementara kedua perahu penyelamat (lifeboard) tersebut, sudah diberikan kepada jajaran Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi Jawa Timur untuk keperluan evakuasi kebencanaan, khususnya banjir, sekitar Bulan Maret 2024.
Kini pasca kembali dikukuhkan sebagai Ketua PII Cabang Gresik periode 2024-2029, Awang bersama jajaran juga sudah memiliki wacana yang akan dilakukan. Salah satu di antaranya, kembali memanfaatkan limbah atau barang tidak berguna, untuk dijadikan barang bermanfaat dan memiliki nilai tambah bagi masyarakat.
“Pemanfaatan polyurethane dari bekas isolasi tangki amonia, kita jadikan sebagai lifeboard, seperti selancar tapi besar,” ujar Awang kepada awak media, di sela agenda pengukuhan Ketua PII Cabang Gresik di GOR Tri Dharma, Minggu (3/11/2024).
“Menggunakan itu (lifeboard) lebih mudah untuk mengevakuasi, daripada harus memakai perahu karet. Sebab dengan lifeboard, ketinggian air 20 sentimeter sudah bisa kita pakai (evakuasi korban banjir),” kata Awang.
Awang mengaku, dalam kepemimpinan dirinya pada periode sebelumnya, PII Cabang Gresik juga turut membantu ketahanan pangan, utamanya di laut. Yakni, membantu para pencari kerang dalam meningkatkan harga jual komoditasnya, melalui inovasi yang berhasil dilakukan pada kerang.
“Gresik itu nomor empat penghasil kerang nasional, yang paling besar. Tapi kenapa nilainya sedikit, karena memang banyak poin-poin yang harus diperbaiki, karena di kerangnya banyak logam beratnya,” ucap Awang.
Atas dasar tersebut, PII Cabang Gresik kemudian membuat inovasi yang bertujuan membantu para pencari dan budidaya kerang, sehingga kerang yang dijual memiliki nilai tinggi. Dikarenakan logam berat yang terkandung dalam kerang, dapat diminimalisir.
“Makanya kita membuat alat namanya deporasi, untuk bisa menghilangkan logam berat yang ada dalam kerang. Dengan itu, nilai untuk kita jual (kerang) ke market jadi lebih mahal, khususnya untuk yang ekspor. Tidak hanya untuk kerang yang sudah besar, bibit kerang yang masih kecil pun juga bisa kita ekspor ke Thailand, China dan Korea,” tutur Awang.
Ketika dikonfirmasi lebih lanjut tentang agenda yang diusung pada periode kedua, Awang menyatakan, tidak jauh berbeda dengan periode sebelumnya. Yakni, memberikan ruang kepada para insinyur yang tergabung dalam PII Cabang Gresik untuk berinovasi, guna membantu masyarakat dengan cara memanfaatkan barang tidak berguna atau limbah.
“Periode kedua ini, kita tetap ingin memberikan ruang bagi insinyur yang ada di Gresik, untuk bisa memberikan kontribusi yang positif, utamanya yang tepat guna,” kata Awang.
Tidak sekedar mengandalkan lifeboard yang sudah berhasil dibuat, Awang juga berharap, bakal ada inovasi baru dari insinyur-insinyur yang tergabung di PII Cabang Gresik dalam waktu ke depan. Termasuk, membantu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik dalam upaya menangani permasalahan yang sedang dihadapi masyarakat.
“Salah satunya kalau di Gresik di wilayah bagian selatan kan pasti banjir (saat musim penghujan), jadi lifeboard bisa dipergunakan.Tapi tidak hanya itu, yang lain apalagi, nah itu tantangan bagi insinyur teknik sipil maupun teknik lain,” tutur Awang.
Sementara Sekretaris Daerah (Sekda) Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman menambahkan, Pemkab Gresik memang butuh berkolaborasi dengan banyak pihak, termasuk PII Cabang Gresik dalam menangani permasalahan yang ada dan juga pelayanan kepada masyarakat.
“Kami tentu akan berkolaborasi dengan PII Gresik, yang sebenarnya tahun lalu sudah kita coba melalui BKPSDM, pelatihan untuk para pegawai. Sebab kami juga butuh tenaga ahli yang bersertifikasi, baik di sektor konstruksi, industri dan lainnya sehingga dapat bersaing sesuai aturan perundang-undangan yang ada,” kata Washil.

