MINATBACA.com – Berawal dari hobi menggambar sejak bangku Sekolah Dasar (SD), Hawien Wilopo sukses membangun usaha batik tulis Lasem merek ‘Gunung Kendil’ di Rembang, Jawa Tengah.
Rupanya kepiawaian dalam menorehkan tinta dari canting yang membentuk motif modern namun tetap menjaga pakem batik, mendapat tempat di hati masyarakat lokal hingga mancanegara. Bahkan, sedikitnya sebanyak 150 karya batik dalam bentuk kain dan pakaian jadi laris terjual setiap bulan, dengan omzet mencapai Rp20 juta, atau sekitar Rp150 juta per tahun.
Kesuksesan tersebut, turut diakui berkat dukungan dari Rumah BUMN PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SIG) di Rembang, yang dikelola oleh anak perusahaan, PT Semen Gresik.
”Saya enggak punya latar belakang pembatik. Awalnya tahun 2010, ada teman minta tolong untuk dibuatkan desain untuk usaha batiknya. Saya lihat kok selalu habis terjual,” buka Hawien.
“Sampai pada 2012, saya ikut pelatihan membatik dan memutuskan untuk membuat usaha sendiri. Usaha saya ramai saat itu, sampai akhirnya pandemi Covid-19 (terjadi) membuat penjualan menurun. Alhamdulillah, saya dapat informasi tentang RB (Rumah BUMN) Rembang dan bergabung pada 2021,” terangnya.
Bergabung bersama RB Rembang, Hawien banyak mendapat pelatihan dan pendampingan. Mulai dari manajemen usaha, optimalisasi platform digital untuk pemasaran, hingga dilibatkan dalam sejumlah pameran. Karya Hawien juga sering tampil di ajang fashion show, yang membuat merek batik tulis Lasem Gunung Kendil dikenal lebih luas.
Sejumlah pameran bergengsi yang pernah diikuti oleh Hawien di antaranya, Festival Tong Tong di Den Haag Belanda pada tahun 2022, Future SMEs Village Side Event G-20 di Bali pada tahun yang sama, Bazar UMKM di Sarinah Jakarta pada 2023, serta Inacraft di Jakarta tahun 2024. Bagi Hawien, bisa mengikuti pameran tingkat nasional hingga internasional menjadi pengalaman membanggakan yang tidak pernah terpikirkan, dengan turut membuat usaha yang digeluti semakian melambung.
Hawien mengaku, keputusan bergabung menjadi mitra binaan RB Rembang adalah titik kebangkitan dari usaha yang ditekuni olehnya pascapandemi, karena secara perlahan usahanya berangsur pulih. Optimalisasi platform digital membuat pelanggan tidak hanya berasal dari Pulau Jawa, namun juga penjuru Nusantara, seperti Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, dan Bali. Bahkan lebih mengagumkan lagi, peminat karyanya juga datang dari mancanegara, seperti Jerman, Belgia, Italia, Korea dan Jepang.
Untuk memenuhi pesanan pelanggan, Hawien kini telah memperkerjakan tujuh orang karyawan untuk membantu. Bahkan jika pesanan sedang ramai, dia turut memberdayakan masyarakat sekitar. Adapun untuk produk batik tulis Lasem Gunung Kendil yang dikerjakan dengan penuh ketelitian, dihargai sekitar Rp200.000 hingga Rp7 juta untuk kain batik, dan Ro600.000 hingga Rp800.000 untuk pakaian jadi.
“Terima kasih SIG dan Semen Gresik, yang telah menghadirkan RB Rembang sebagai wadah bagi kami UMKM. Saya sangat senang bisa bergabung di RB Rembang, keberadaan RB Rembang sangat membantu UMKM untuk berkembang. Semoga RB Rembang terus eksis, sehingga dapat mendampingi kami para pegiat UMKM,” ungkap Hawien.
Corporate Secretary SIG Vita Mahreyni mengatakan, SIG mengapresiasi capaian membanggakan batik tulis Lasem Gunung Kendil. Selain mempromosikan batik sebagai salah satu kekayaan budaya Indonesia hingga ke mancanegara, UMKM binaan RB Rembang tersebut juga membuka kesempatan alias peluang kerja bagi masyarakat.
“Semoga ke depan ada lebih banyak lagi UMKM yang sukses mengembangkan usahanya, sehingga dapat berkontribusi lebih terhadap pertumbuhan ekonomi daerah,” kata Vita.
“SIG melalui RB Rembang, berkomitmen untuk selalu mendampingi UMKM agar dapat menjalankan usaha secara profesional dan mampu memanfaatkan platform digital, sehingga produk-produknya dapat dijangkau secara nasional hingga mancanegara,” tambah Vita.

