GRESIK – Beberapa hari menjelang Pemilu 2014, para santri Pondok Pesantren Mambaus Sholihin Roudotul Mutaallimin yang berada di Desa Suci, Kecamatan Manyar, Gresik, turut ambil bagian dalam diskusi kebangsaan yang melibatkan Gus Wahab Yahya Hamid Hasbulloh dari Ponpes Al Muhajirin 2 Bahrul Ulum Tambak Beras, Jombang.
Dalam diskusi bertajuk “Santri Bicara Demokrasi” tersebut, juga dihadiri oleh Pengasuh Mambaus Sholihin Roudhotul Mutaallimin Agus M Jauhan Farhad dan Dosen Fakultas Hukum Ubhara, Jamil. Di mana para santri diingatkan untuk dapat memahami kondisi politik jelang pelaksanaan Pemilu 14 Februari 2024.
Bahkan, dalam sambutan Gus Wahab menekankan betapa pentingnya melek politik dan keadilan, dalam sistem politik Indonesia. Dia pun menyoroti rekayasa hukum, pelanggaran dan mengajak rakyat untuk berperan aktif dalam mendukung demokrasi.
“Carilah sosok pemimpin yang mengedepankan kepentingan rakyat. Pemimpin yang sudah berpengalaman dan teruji dalam menjalankan roda pemerintahan, baik eksekutif, legislatif dan yudikatif,” kata Gus Wahab, saat diskusi, Sabtu (27/1/2024).
“Perlawanan terhadap manipulasi konstitusi dan pelanggaran hukum perlu dilakukan, untuk menjaga fondasi demokrasi kita,” jelasnya.
Gus Wahab menilai, pasangan calon (paslon) yang dapat mewujudkan hal tersebut ada pada sosok nomor urut 3, paslon Ganjar Pranowo-Mahfud MD. Pasalnya, Ganjar-Mahfud dianggapnya sebagai pemimpin yang memiliki landasan hukum dan keadilan, menjadikan negara sebagai ‘Baldatun Toyyibatun Wa Robbun Ghofur.’
“Pemimpin rakyat itu ada pada Paslon nomor 3, Ganjar-Mahfud,” terangnya.
Sementara Pengasuh Mambaus Sholihin Roudhotul Mutaallimin Agus M Jauhan Farhad, mencontohkan pemimpin ideal itu seperti Imam Mawardi dan Imam Al Ghozali. Kedua ulama yang memiliki nilai spiritualitas dan intelektualitas, serta tanggung jawab dunia dan akhirat.
“Mempunyai nilai spiritualitas dan intelektualitas. Tidak hanya tanggung jawab di dunia saja, tapi juga di akhirat,” jelas Agus.
Sebab menurut Agus, hubungan agama dan politik bukan hal yang terpisah tapi satu kesatuan. Sebagai acuan dari zaman Nabi Muhammad SAW, dengan tercetusnya piagam madinah.
Beberapa perwakilan pengasuh pondok pesantren yang turut hadir dalam diskusi di antaranya, Ponpes Qomarudin Bungah, Daruttaqwa Manyar, Mambaul Ihsan Mojopuro, Al-Hasani Klangonan, Ainul Yaqin Kebungson, Ali Zainal Abidin Bungah, Nurul Hidayah Pereng Kulon, Khozainul Ilmi Menganti, Al Miftakh Bungah, Tarbiyatul Wathon Panceng dan Qiyamul Manar Sidayu.
Ada pula perwakilan Ponpes Al Falah Panceng, Miftahul Ulum Menganti, Al Furqon Driyorejo, Al Mubarok Glatik, Hidayatul Ummah Kroman, Tahsinul Akhlaq Surabaya, Roudlotus Sholihin Sidogiri Surabaya, Nurul Musthofa Lamongan, Bustanul Arifin Lamongan dan Abu Dzarrin Dander Bojonegoro.

