GRESIK – Untuk memberikan wawasan dalam rangka kegiatan sosialisasi kebangsaan, perwakilan Detasemen Khusus (Densus) 88 Anti Teror (AT) Kepolisian Republik Indonesia (Polri) datang berkunjung ke Gresik, Jumat (21/6/2024).
Acara berlangsung di aula SMA Negeri 1 Cerme, Gresik, dengan dihadiri beberapa tokoh. Mulai dari AKBP Mohammad Dofir mewakili Densus 88 AT Polri, Kepala Cabang Dinas Pendidikan Gresik Kiswanto, juga Muhammad Saifuddin Umar selaku eks Narapidana Terorisme (Napiter). Dengan diikuti sebanyak 203 peserta dari kalangan kepala, pengawas dan guru BP SMA se-Kabupaten Gresik, Jumat (21/6/2024).
“Direktorat Pencegahan Densus 88 AT merupakan salah satu direktorat yang bertujuan untuk menunjukan, bahwa Densus selain militan tetapi juga memiliki sisi humanis dalam menangani aksi teror,” kata Dofir.
Kegiatan tersebut dilaksanakan Densus 88 AT dalam rangka mencegah paham radikalisme, agar tidak sampai masuk ke sekolah. Dengan perwakilan Densus 88 sempat menyampaikan, definisi tentang paham Intoleransi, Radikalisme, Extremisme dan Terorisme (IRET) secara detail kepada para peserta.
“Harapannya jika sudah teredukasi, seluruh kepala sekolah, bisa melakukan deteksi dini di lingkungan sekolahnya. Sehingga sekolahnya bisa bebas dari paham IRET,” terangnya.
Selama 2023, Direktorat Pencegahan Densus 88 AT telah melakukan sekitar 16.500 kegiatan pencegahan, untuk menekan penyebaran paham IRET. Dikarenakan ideologi yang menyimpang, menjadi salah satu penyebab terbesar munculnya paham IRET. Ada yang rela sampai membunuh sesama muslim, hanya karena alasan ingin mendirikan khilafah di Indonesia.
“Radikalisme ini tidak merujuk pada agama Islam saja, namun terdapat permasalahan yang sama di setiap agama terkait paham IRET. Dengan saat ini, media sosial menjadi salah satu sarana penyebaran paham radikalisme tertinggi, karena bisa diakses oleh siapapun dan kapanpun,” ungkapnya.
Oleh sebab itu, Densus 88 AT mengajak para kepala sekolah dan guru untuk menjadi agen pencegahan paham IRET di lingkungan sekolah, agar siswa bisa terbentengi dari paham radikalisme. Serta mengajak kepada semua pihak, untuk selalu merawat keragaman di Indonesia, karena hal tersebut adalah salah satu kekuatan Bangsa Indonesia.

