MINATBACA.com – Samurai Jalu (12) kembali menggelar pameran tunggal. Dengan kali ini bertajuk ‘Mulai dari Rumah’ bertempat di Rumah Ambarteja dan Larasrasa, Grand Royal Regency K5 03A, Cluster Lavender, Wage, Kecamatan Taman, Sidoarjo.
Bahkan pameran seniman dari Sanggar DAUN ini sudah dibuka pada Sabtu (24/1/2026), dan akan berlangsung hingga 8 Februari 2026. Ini merupakan pameran tunggal yang kedua dilakukan Samurai, kali ini berkolaborasi dengan sang ayah yang berprofesi sebagai arsitek.
Pameran dikuratori Arik S Wartono. Dinarasikan oleh penulis seni rupa Agus ‘Koecink’ Sukamto, dosen, penulis sekaligus perupa. Beserta Saiful Hadjar, seniman senior, penggagas dan penggerak Kelompok Seni Rupa Bermain (KRSB).
Tujuan pameran digelar adalah, untuk mengapresiasi kreativitas anak, dan mengajak masyarakat untuk melihat rumah sebagai laboratorium kreatif anak. Sebab pameran ‘Mulai dari Rumah’ menampilkan karya-karya Samurai yang dihasilkan dari aktifitas kreatif di rumah, yang mengundang pengunjung untuk berdiskusi serta merefleksikan tentang pentingnya kreativitas dan ekspresi diri anak.
“Ini adalah upaya untuk mengubah pandangan masyarakat tentang kreativitas anak, mengajak orang tua untuk lebih memahami dan mendukung aktifitas kreatif anak,” kata Samurai.

Total ada sebanyak 33 karya lukis berbagai ukuran, instalasi, dan arsip proses kreatif Samurai sejak usia balita, yang dipajang di Rumah Ambarteja dan Larasrasa. Lokasi pameran merupakan dua rumah bersebelahan yang baru selesai dibangun, dan difungsikan sebagai ruang pameran berkonsep open house yang memungkinkan pengunjung untuk melihat langsung karya-karya siswa kelas 6 SDIT Nurul Fikri Sukodono, Sidoarjo, tersebut di lingkungan rumahnya.
Arik S Wartono, kurator pameran sekaligus guru pembina Samurai di Sanggar DAUN mengatakan, aktifitas kreatif anak yang mencoreti setiap detail bagian rumah yang mampu dijangkau, terutama dinding, lantai, pagar, sampai berbagai perabot di dalam dan di sekitar rumah. Sejauh ini dalam tinjauan seni rupa anak dan psikologi perkembangan, telah diapresiasi sebagai hal positif.
“Wacana rumah sebagai laboratorium kreatif anak, telah banyak dibahas dalam psikologi pendidikan. Terutama perkembangan anak, termasuk juga dibahas dalam dunia seni rupa anak,” ujar Arik.
“Namun hal ini menjadi pameran seni rupa anak yang sesungguhnya, peristiwa open house seniman anak berkolaborasi dengan ayahnya yang seorang arsitek, tampaknya baru pertama kali terjadi di Indonesia. Bahkan, mungkin di seluruh dunia,” bebernya.
Ayah Samurai, Andy Rahman mengungkapkan, proses kreatif anak selalu dimulai dari rumah, mencorat-coret dinding rumah adalah salah satunya. Karena itu, pada pameran ini coba mendobrak ‘arsitektur steril’ yakni, arsitektur yang biasanya tampil bersih dan indah.
“Di pameran ini arsitektur dimunculkan dalam kondisi sehari-hari, sebuah rumah yang biasa kita lihat sehari-hari ketika di dalamnya ada anak kecil. Proses kreatif anaklah yang justru membuat sebuah rumah jadi hidup,” ungkap Andy.
Sedangkan Agus ‘Koecink’ Sukamto menyebut, kolaborasi dua generasi (ayah dan anak tersebut) tersebut menciptakan dinamika yang unik. Sosok ayah membangun struktur dan arsitektur (pondasi, dinding, atap, ruang dan ambiencenya), sementara Samurai membangun jiwa dari rumah tersebut.
Kegiatan ini juga menjadi ruang dialog tanpa kata antara ayah dan anak. Saat ayah memastikan rumah telah kokoh berdiri, Samurai memastikan rumah itu hidup dengan imajinasi masa kecilnya yang jujur dan liar. Baginya dinding rumah bukan lagi penghalang, melainkan media komunikasi dan setiap goresannya adalah, rekaman memori tentang masa kecil dan kini yang dirayakan, bukan dibatasi.
“Tidak ada kata ‘jangan mengotori tembok,’ yang ada hanyalah tawaran ‘mari berkreasi bersama,” ucap Agus.
“Dari ruang privat ke ruang publik, keindahan dari proses panjang ini akhirnya meluap keluar. Apa yang bermula dari coretan di dinding ruang dan kanvas, kemudian dikurasi menjadi sebuah pameran publik,” lanjutnya.

Penulis Saiful Hadjar menambahkan, menginstal rumah menjadi karya seni rupa karya Samurai dilihat dari fungsinya, bisa jadi sarana dan prasarana home schooling. Rumah adalah sarana dan seni rupa (instalasi) merupakan prasarana sekolah alternatif (home schooling), menempatkan anak sebagai subjek dengan pendidikan anak secara at home. Keduanya saling berkaitan, memberi kesempatan bagi anak untuk berkembang sesuai dengan kebutuhan mereka
“Ini merupakan sebuah kerja kreatif yang sangat besar (untuk ukuran seorang anak), tidak lepas dari peran aktif orang tuanya, Andy Rahman (arsitek) dan guru sanggar seni lukis, Arik S. Wartono (Sarjana Pendidikan Seni Rupa),” tutur Saiful.
“Sebuah proses kerja kreatif pada anak (Samurai), secara tidak langsung mengenalkan proses kerja seni rupa yang berkelindan dengan berbagai aspek kehidupan manusia dan berbagai ilmu pengetahuan, sains dan berbagai jenis kesenian,” sambungnya.
Adapun pameran ‘Mulai dari Rumah’ terbuka untuk umum, setiap hari dari pukul 10.00 WIB hingga 14.30 WIB. Selain pameran, di rumah tersebut juga diselenggarakan serangkaian diskusi lintas disiplin ilmu. Mulai dari seni rupa, arsitektur, hingga psikologi, tanggal 31 Januari dan 8 Februari 2026.

