MINATBACA.com – Dalam rangka sosialisasi penambahan alokasi pupuk 2024 yang ditetapkan oleh pemerintah dari 4,7 juta menjadi 9,55 juta ton, Petrokimia Gresik perusahaan Solusi Agroindustri anggota holding Pupuk Indonesia, mengunjungi Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Pada kunjungan yang berlangsung tanggal 10 hingga 15 Mei 2024 tersebut, jajaran Petrokimia Gresik melakukan blusukan ke kios-kios maupun distributor, hingga pulau terluar Indonesia yang berada di Provinsi NTT.
Direktur Keuangan dan Umum Petrokimia Gresik Robby Setiabudi Madjid menyampaikan, penambahan alokasi pupuk bersubsidi 2024 di NTT di antaranya, alokasi Urea sebelumnya hanya 36.408 ton menjadi 62.228 ton. Kemudian alokasi NPK menjadi 70.244 ton dari alokasi awal 32.858 ton, begitu pula NPK Kakao yang bertambah alokasinya menjadi 659 ton dari 95 ton.
“Kami sudah keliling ke distributor dan kios-kios yang ada di NTT, seperti ke Maumere. Kami juga melihat blusukan ke distributor dan kios di Kepulauan Rote, yang menjadi wilayah paling selatan Indonesia,” kata Robby.
“Sosialisasi ini kami lakukan, agar penambahan alokasi bisa dioptimalkan oleh petani untuk mendorong produktivitas pertanian di NTT dan ketahanan pangan, baik lokal maupun nasional,” jelasnya.
Robby menambahkan, supaya petani dapat mengoptimalkan penambahan alokasi tersebut, Petrokimia Gresik telah menyiapkan stok pupuk bersubsidi yang mencukupi di gudang-gudang lini II (provinsi) maupun lini III (kabupaten/kota) di NTT. Stok pupuk bersubsidi yang disiapkan hingga per tanggal 14 Mei 2024 sebanyak 20.557 ton, jauh melampaui stok minimal yang diwajibkan oleh pemerintah.
Dengan rincian, stok Urea bersubsidi sebanyak 12.827 ton atau sekitar 352 persen dari stok minimal yang dipersyaratkan oleh pemerintah yakni, sebanyak 2.324 ton. Sementara untuk persediaan stok NPK di NTT, saat ini sebanyak 7.730 ton atau 298 persen dari ketentuan minimum yang dipersyaratkan sebesar 2.594 ton.
“Stok tersebut aman untuk memenuhi kebutuhan pupuk bersubsidi petani selama 14 hari ke depan. Kami akan terus memastikan ketersediaan pupuk terjaga, sehingga penambahan alokasi yang telah dilakukan pemerintah benar-benar memberikan dampak positif,” tutur Robby.
Robby mengungkapkan, penyerapan pupuk bersubsidi di NTT saat ini perlu dioptimalkan. Dikarenakan realisasi penyaluran Urea di NTT hingga Mei 2024, baru di angka 17 persen dari alokasi atau 10.378 ton, kemudian NPK masih 14 persen atau 9.828 ton.
Dengan kemudahan penebusan pupuk bersubsidi yang hanya menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP), maka untuk pengawasan penyaluran pupuk bersubsidi juga semakin diperketat. Sesuai Peraturan Menteri Pertanian (Permentan) nomor 1 tahun 2024, petani yang boleh mendapatkan pupuk bersubsidi harus tergabung dalam Kelompok Tani dan terdaftar dalam elektronik Rencana Definitif Kebutuhan Kelompok (e-RDKK).
Beleid juga menyebutkan, bahwa pupuk bersubsidi diperuntukan bagi petani yang melakukan usaha tani subsektor tanaman pangan seperti padi, jagung dan kedelai. Serta subsektor tanaman hortikultura seperti cabai, bawang merah dan putih. Juga untuk subsektor perkebunan seperti tebu rakyat, kakao dan kopi.
Dari jenis-jenis usaha tani tersebut, ditetapkan bahwa kriteria luas lahan yang diusahakan maksimal 2 hektare, termasuk di dalamnya petani yang tergabung dalam Lembaga Masyarakat Desa Hutan (LMDH), sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
Pada aturan baru ini, e-RDKK dapat dievaluasi empat bulan sekali pada tahun berjalan. Dengan kata lain, petani yang belum mendapatkan alokasi, bisa menginput pada proses pendaftaran pada proses evaluasi di tahun berjalan.
erakhir Robby menuturkan, selain blusukan ke kios dan distributor, pihaknya juga bertemu dengan tokoh pangan di NTT dan para petani langsung di lapangan. Selain untuk menyosialisasikan penambahan alokasi dan kemudahan penebusan pupuk bersubsidi, juga bertujuan menjaring aspirasi guna meningkatkan layanan penyaluran pupuk bersubsidi di NTT.
“Harapannya, penambahan alokasi pupuk bersubsidi dan kemudahan penebusan yang diberikan pemerintah, benar-benar memberikan dampak besar bagi produktivitas pertanian, khususnya di NTT,” pungkasnya.

