Close Menu
minatbaca.comminatbaca.com
    Facebook Instagram
    Facebook X (Twitter) Instagram
    minatbaca.comminatbaca.com
    • Home

      Behind the Story : Dedikasi di Antara Deru Pabrik dan Kelir Wayang

      16 Agustus 2026

      Anggota Paskibraka untuk Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Lamongan Dikukuhkan

      16 Agustus 2026

      PESONA Lamongan 2026 Resmi Dibuka Pak Yes

      15 Agustus 2026

      Memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Bupati Lamongan Buka Kejuaraan Tenis

      15 Agustus 2026

      Melalui Pestani Rawit Groo Festival, Petrokimia Gresik Bantu Tingkatkan Produktivitas Cabai Rawit

      15 Agustus 2026
    • Ekonomi
    • Pemerintahan
    • Hukum
    • Sport
    • Pendidikan
    • Lifestyle
      • Travel
      • sosial
      • Budaya
    minatbaca.comminatbaca.com
    You are at:Home»Budaya»Behind the Story : Dedikasi di Antara Deru Pabrik dan Kelir Wayang
    Budaya

    Behind the Story : Dedikasi di Antara Deru Pabrik dan Kelir Wayang

    adminBy admin16 Agustus 20262 Mins Read
    Facebook Telegram WhatsApp
    Suasana latihan di Sanggar Mahesa Kencana selalu diselimuti rasa guyub yang kental. Sebagian besar para pengrawit di sini merupakan para pensiunan karyawan Petrokimia Gresik yang menolak untuk berhenti berkarya.
    Di usia senja, mereka terus merawat kecintaan akan budaya Jawa, sekaligus menjadi pilar penopang ritme yang membimbing langkah awal anak-anak dalang cilik.
    Saat jam kerja usai, lelah pabrik tidak membuatnya lekas pulang. Di Sanggar Mahesa Kencana Petrokimia Gresik, Bagas bertransformasi menjadi seorang guru. Di tengah gempuran dunia digital, ia meluangkan waktu berharga untuk menularkan filosofi, teknik sabetan, dan vokal kepada tiga dalang cilik masa depan.
    Bagas Septiawan berlatih wayang di Sanggar Maheso kencono
    Mendalang bukan sekadar menggerakkan kulit kerbau, melainkan menghidupkan karakter. Dengan penuh ketelatenan. Baginya, melatih anak-anak membutuhkan kesabaran ekstra agar kecintaan mereka terhadap wayang tumbuh secara organik.
    Tak hanya mengajarkan sabetan wayang. Sebagai seorang dalang semua kemampuan harus dikuasai termasuk memukul kendang.
    Pentas malam itu bukan sekadar hiburan ulang tahun perusahaan, melainkan simbol keberhasilan sebuah estafet budaya. Melalui komitmen Petrokimia Gresik dan dedikasi tanpa batas dari seorang pekerja seperti Ki Bagas, masa depan wayang kulit terbukti tidak akan redup di tangan generasi alpha.
    Mendalang bukan sekadar menggerakkan kulit kerbau, melainkan menghidupkan karakter. Tengok saja Kyano, salah satu dalang cilik binaan terkecil yang kini duduk di kelas V MINUTratee Putra. Perjalanan Kyano bermula sejak ia bersekolah di TK PIKPG yang lokasinya tepat berada di samping sanggar ini.
    Tiga Dalang Cilik mendapat bantuan pembinaan dari Petrokimia Gresik
    Jajaran Direksi PT Petrokimia Gresik berfoto bersama dengan Ki Bayu Aji Pamungkas Anom dan Ki Bagas Septyawan dalam pagelaran wayang kulit dalam rangka HUT PT Petrokimia Gresik ke 54.Pagelaran wayang kulit tersebut menghadirkan dalang utama
    Suasana Halaman Stadion Olahraga Petrokimia Gresik yang dipenuhi para pecinta Wayang kulit. Secara rutin Petrokimia mengundang para dalang kondang untuk menghibur masyarakat Gresik

    Di bawah langit utara Gresik yang riuh oleh deru mesin pabrik dan aktivitas industri, sebuah warisan adiluhung justru tumbuh subur dan merawat akarnya dengan sunyi. Adalah Ki Ahmad Bagas Setiawan, seorang karyawan muda di Pabrik Produksi 2B Petrokimia Gresik, yang menjalani kehidupan ganda dengan ritme yang luar biasa. Baginya, peluit akhir pergantian shift kerja bukanlah tanda untuk lekas beristirahat. Masih mengenakan seragam kerja lengkap dengan sisa lelah yang membekas, langkah kakinya langsung berbelok menuju Sanggar Mahesa Kencana, tempat di mana ia menanggalkan statusnya sebagai pekerja industri dan bertransformasi menjadi seorang penjaga kebudayaan.

    Di dalam sanggar yang sedikit tersembunyi dibalik rimbun pohon beringin, sebuah estafet budaya lintas generasi sedang dirajut dengan penuh ketelatenan. Bersama para pengrawit senior yang merupakan pensiunan karyawan Petrokimia Gresik, Ki Bagas meluangkan waktu berharganya untuk menempa tunas-tunas muda, salah satunya Kyano Renan Hanenda, dalang cilik kelas V MINU Tratee Putra yang sudah berani memegang cempurit sejak TK. Di tempat yang guyub ini, harmoni gamelan dan filosofi hidup diajarkan melampaui sekat usia. Menjelang malam puncak HUT ke-54 Petrokimia Gresik, ruang latihan ini menjadi saksi bisu bagaimana sebuah komitmen jangka panjang mampu membuktikan bahwa di tengah kepungan dunia digital dan modernitas industri, masa depan wayang kulit purwa tidak akan pernah redup di tangan generasi penerus.

     

    dalang cilik HUT petrokimia petrokima gresik wayang kulit
    Previous ArticleAnggota Paskibraka untuk Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Lamongan Dikukuhkan
    Search
    Terkini

    Behind the Story : Dedikasi di Antara Deru Pabrik dan Kelir Wayang

    Anggota Paskibraka untuk Upacara Peringatan HUT Kemerdekaan RI ke-81 di Lamongan Dikukuhkan

    PESONA Lamongan 2026 Resmi Dibuka Pak Yes

    Memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Bupati Lamongan Buka Kejuaraan Tenis

    Melalui Pestani Rawit Groo Festival, Petrokimia Gresik Bantu Tingkatkan Produktivitas Cabai Rawit

    Load More
    Berita Lainnya
    Inspirasi

    TMMD ke-124, Plt Bupati Gresik dan Aslog Panglima TNI Tinjau Desa Banter

    23 Mei 2025

    MINATBACA.com – Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Gresik Asluchul Alif, menghadiri kegiatan Pengawasan dan Evaluasi (Wanev)…

    Dinsos Gresik Gelar Sosialisasi Bantuan Permakanan Lansia dan Penyandang Disabilitas

    Capai 904,928 Ton, Produksi Padi di Kabupaten Lamongan Duduki Peringkat Pertama Jawa Timur

    Ludruk Budi Wijaya Semarakkan Acara Sedekah Bumi Dusun Turi, Desa Turirejo

    © 2026 minatbaca.com. Designed by minatbaca.com.
    • Home
    • Redaksi
    • Kode Etik

    Type above and press Enter to search. Press Esc to cancel.