MINATBACA.com – Ribuan warga mengukuti kegiatan malem selawe (malam 25 Ramadhan) yang digelar di Masjid Ainul Yaqin, kawasan religi Sunan Giri.
Dalam kegiatan Sabtu (14/3/2026) malam WIB tersebut, masyarakat terlihat cukup antusias dalam mengikuti rangkaian ibadah dan doa bersama. Sebuah tradisi yang telah berlangsung selama berabad-abad, dan menjadi bagian penting dari identitas religius masyarakat Gresik, sekaligus momentum untuk memperkuat kebersamaan.
Rangkaian kegiatan diawali dengan salat Isya dan Tarawih berjamaah, dilanjutkan dengan munajat serta pembacaan 1.000 kali Surat Al Ikhlas secara bersama-sama. Dengan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani bersama Wakil Bupati (Wabup) Gresik Asluchul Alif, turut hadir mengikuti rangkaian acara dengan jajaran Forkopimda.
Sebelum menuju masjid, Bupati Gresik dan juga rombongan, terlebih dulu berziarah ke Makam Sunan Giri. Dengan Gus Yani-sapaan Bupati Gresik Fandi Akhmad Yani menyampaikan, malem selawe adalah tradisi spiritual yang harus terus dijaga dan dilestarikan oleh masyarakat Gresik.
“Niat kita malam ini adalah beriktikaf, untuk mendapatkan keberkahan malam Lailatul Qadar. Semoga Indonesia semakin damai dan sukses, khususnya Gresik agar semakin aman, kondusif, serta terbukanya pintu rezeki bagi masyarakat,” ujar Gus Yani.
Dia juga mengajak kepada masyarakat, untuk tetap istiqomah menjaga tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun tersebut.
“Semoga kita tetap istiqomah menjaga tradisi malem selawe yang sudah berlangsung berabad-abad, dan memberi dampak langsung bagi masyarakat. Semoga kita bisa kembali bertemu, di Bulan Ramadhan tahun depan,” imbuhnya.
Gus Yani juga menyampaikan, terima kasih kepada seluruh pihak yang telah mendukung gelaran malem selawe sehingga berjalan lancar. Termasuk, Sahabat Ansor yang selama dua tahun terakhir turut membantu Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik dalam pelaksanaan kegiatan tersebut.
Pada penyelenggaraan tahun ini, terdapat sejumlah hal berbeda. Di mana Pemkab Gresik melibatkan desa dan kelurahan melalui program ‘Satu Desa Satu Produk Unggulan,’ yang ditampilkan dalam stan-stan di kawasan malam selawe.
Selain itu, pemerintah daerah juga menyediakan 2.000 porsi nasi kebuli dan 500 kupat ketheq bagi masyarakat. Hidangan disiapkan sebagai wujud syukur, atas ditetapkannya tradisi malem selawe dan Kupat Ketheg sebagai Warisan Budaya Tak Benda oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Republik Indonesia.
Piagam penghargaan tersebut, secara simbolis lantas diserahkan oleh Bupati dan Wabup Gresik kepada Camat Kebomas sebagai bentuk apresiasi, sekaligus komitmen untuk terus menjaga dan melestarikan tradisi tersebut.
Pada bagian lain antusiasme masyarakat terlihat sejak sore hari. Stan kuliner yang berjajar di kawasan Sunan Giri dipadati pengunjung yang datang untuk menikmati suasana khas malam selawe. Seorang pengunjung Yuni (38) warga Perumahan Bhumi Jati Permai, Jatirembe mengaku, bahagia dapat mengikuti tradisi tersebut bersama keluarga.
“Alhamdulillah saya bisa hadir di majelis dan tradisi yang khidmat ini. Meski tadi sempat kehujanan dan basah-basahan naik ke masjid, saya tetap merasa bahagia. Di bawah ada kuliner, di atas ada munajat dan doa-doa. Saya senang bisa merasakan suasana ini bersama anak saya. Malem selawe selalu ada cerita,” ungkap Yuni.
Pemkab Gresik berharap, tradisi luhur ini terus dijaga sebagai warisan budaya dan spiritual yang memperkuat nilai religius, sekaligus kebersamaan masyarakat Gresik.

