MINATBACA.com – Ada yang berbeda dari perayaan tradisi adat Mendhak Sanggring, yang telah tercatat sebagai Warisan Budaya Takbenda (WBTb) milik Desa Tlemang, Kecamatan Ngimbang, Kabupaten Lamongan, pada tahun ini.
Tidak hanya menyuguhkan olahan Sanggring seperti pada tahun-tahun sebelumnya, namun Pemerintah Desa (Pemdes) Tlemang juga melaunching udeng (ikat kepala) khas yang diberi nama Udeng Semolo Gandring, dalam kegiatan Sanggring Ziarah Buyut Terik, Minggu (8/11/2026).
Pada ikatan udeng tersebut tersimpan beberapa filosofi, mulai di sisi kiri udeng terdapat gunungan yang melambangkan Gunung Inggil di Desa Tlemang. Kemudian di sisi depan, terdapat ikatan yang melambangkan tongkat (teken dalam Bahasa Jawa) yang memiliki arti tuntunan atau tujuan hidup. Serta di sisi kanan juga terdapat tiga lipatan, yang melambangkan kenceng sanggring dengan lipatan terluar terdiri dari lima tekukan, yang melambangkan Pancasila dan Rukun Islam.
Kepala Desa Tlemang Aris Pramono mengatakan, digelarnya agenda tidak hanya untuk melestarikan adat budaya, namun Mendhak Sanggring juga turut membangun ekonomi pedesaan dengan melibatkan UMKM lokal. Sementara Udeng Semolo Gandring merupakan gagasan yang dimunculkan, untuk menunjang tradisi Mendhak Sanggring.
“Untuk menunjang itu (tradisi Mendhak Sanggring) kita mempunyai ide dan gagasan dengan mengembangkan udeng, dan rencana ke depan kita juga mau membuat batik yang bermotif Tlemang, yang berkaitan langsung dengan Mendhak Sanggring,” ungkap Aris.
“Filosofi Sanggring, Sanggring mempunyai tiga tempat masak atau kenceng, di sini ada lipatan tiga yang menggambarkan kenceng itu sendiri. Kenapa tidak empat atau lima? Orang dulu mengartikan sanggring itu bisa dimaknai seperti lapisan kehidupan juga, dari alam kandungan, alam dunia, dan alam akhirat,” terangnya.
Mendhak Sanggring merupakan tradisi adat rutin yang setiap kisaran tanggal 27 Jumadil Awal digelar, sebagai simbol rasa syukur atas hasil bumi, juga sebagai bentuk penghormatan kepada leluhur pendiri Desa Tlemang (Ki Buyut Terik). Sama seperti tahun-tahun sebelumnya, tradisi ini akan diisi dengan berbagai rangkaian prosesi adat hingga acara puncak yakni, pelaksanaan masak besar Kuah Sanggring berbahan utama Ayam Jawa dengan bumbu khas, yang seluruh proses pengolahan dilakukan khusus oleh kaum laki-laki Desa Tlemang.
Hadir dalam kesempatan tersebut, Bupati Lamongan Yuhronur Efendi. Dia mengatakan, sudah menjadi kewajiban masyarakat Lamongan dalam menjaga dan merawat tradisi, yang menjadi warisan dari para tokoh-tokoh pendahulu Lamongan.
“Jadi ini kekhasan dan keunikan khusus dari Desa Tlemang. Mendhak Sanggring ini salah satu budaya yang sudah diakui sebagai Warisan Budaya Takbenda oleh Pemerintah Republik Indonesia, sehingga kewajiban bagi kita semua bahwa budaya ini akan terus kita laksanakan, karena ini mengandung filosofi yang tinggi bagi seluruh masyarakatnya,” tutur Pak Yes-sapaan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi.
“Dari kegiatan ini kita juga melaunching udeng khas dari Tlemang, yang namanya Semolo Gandring. Diharapkan udeng ini menampilkan suatu semangat dari Tleman ini untuk Indonesia, dari Lamongan untuk Indonesia,” ucapnya.


