MINATBACA.com – Workshop bertajuk ‘Through the Lens: Culinary Storytelling with Photography’ digelar di Gedung Nasional Indonesia (GNI), Gresik.

Agenda yang dilaksanakan pada Selasa (28/7/2026) tersebut, dihadiri oleh Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Kebudayaan, Kepemudaan dan Olahraga Kabupaten Gresik drg Saifuddin Ghozali. Serta Deputi Bidang Kreativitas Media Kementrian Ekonomi Kreatif, Cecep Rukendi.

Termasuk dihadiri anggota Komisi VII DPR RI Nila Yani Hardiyanti, dengan menghadirkan narasumber Mamuk Ismuntoro. Sosok fotografer profesional asal Surabaya, pengajar foto jurnalistik, dan juga pendiri Matanesia.

Adapun kegiatan digelar bertujuan mendorong para pelaku usaha di Gresik, khususnya UMKM, dapat memanfaatkan fotografi dan media sosial sebagai strategi pemasaran. Dengan diharapkan mampu menjangkau konsumen, khususnya generasi muda.

Menurut Nila, banyak kuliner khas Gresik yang memiliki cita rasa, dengan resep yang diwariskan secara turun-temurun. Namun tidak sedikit pelaku usaha yang masih kesulitan menarik perhatian pasar generasi muda, karena belum mampu menyajikan tampilan visual yang menarik di media digital.

“Selama ini banyak kuliner yang rasanya luar biasa tetapi belum mampu menyapa Gen Z, padahal mereka sangat aktif menggunakan media sosial. Karena itu, foto makanan bukan sekadar gambar, tetapi harus mampu bercerita dan membangun ketertarikan calon pembeli,” ujar Nila.

Atas dasar tersebut, maka workshop dilaksanakan supaya produk yang dijual mampu mengundang orang untuk membeli. Penguatan sektor ekonomi kreatif di daerah, tambah Nila, diharapkan mampu berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi nasional. Karena itu, kegiatan tidak sekadar menjadi acara seremonial, melainkan menjadi instrumen peningkatan kapasitas pelaku usaha.

“Kami ingin workshop ini benar-benar menjadi bekal bagi para pelaku bisnis, agar mampu memanfaatkan kekuatan visual dalam memasarkan produknya,” harapnya.

Sementara Ghozali berharap, kegiatan dapat dimanfaatkan pelaku UMKM untuk meningkatkan kualitas promosi produk. Menurutnya, Kabupaten Gresik memiliki sejumlah kuliner yang masuk dalam warisan budaya tak benda (WBTB) seperti nasi krawu dan kupat ketek, yang memiliki potensi besar untuk dipromosikan melalui konten visual menarik.

“Kami berharap para pelaku usaha dapat memanfaatkan ilmu fotografi storytelling ini, agar kuliner khas Gresik semakin dikenal luas dan memiliki daya saing yang lebih tinggi,” kata Ghozali.

Adapun Iman turut mengapresiasi penyelenggaraan workshop. Karena menurutnya, kemampuan pelaku UMKM memanfaatkan fotografi dan storytelling, akan menjadi salah satu langkah penting untuk meningkatkan nilai tambah produk kuliner, sekaligus memperluas jangkauan pemasaran di era digital.

Sedangkan Mamuk yang telah berkecimpung di dunia fotografi sejak 1996, sempat memaparkan beberapa pengalaman dan materi mengenai teknik fotografi makanan, hingga membangun cerita visual yang efektif untuk kebutuhan promosi digital.

“Memberikan semacam pemandangan, jika tampilan produk juga harus diperhatikan. Jangan berhenti hanya membuat barang bagus, tapi kemasannya gak dapat,” tutur Mamuk.

Mamuk menjelaskan, salah satu yang perlu untuk diperhatikan para pelaku UMKM guna menampilkan produknya lebih menarik adalah, berpromosi melalui media gambar atau foto.

“Kalau ngomong kemasan ke pembeli, itu kan salah satunya dengan fotografi. Pelatihan memang belum lengkap, karena belum ada praktik. Tapi paling tidak, para pelaku UMKM mengetahui bila produk-produk yang ditampilkan tidak harus diraih secara mahal, sebab dengan cara sederhana juga bisa,” jelasnya.

Exit mobile version