MINATBACA.com – Setiap tahun di Desa Sumberrejo, Kecamatan Manyar, Gresik, rutin dilaksanakan Haul Mbah H Noloyudho.
Sosok yang membuka kawasan mangrove bernama Penthoel, cikal bakal Desa Sumberrejo. Dengan pada tahun ini, Haul Mbah H Noloyudho dilaksanakan di halaman Masjid Jami’ Baitul Muttaqin, di mana warga memadati lokasi kegiatan untuk mengikuti rangkaian doa bersama, tahlil, dan pengajian, sebagai bentuk penghormatan kepada Mbah H Noloyudho, Kamis (11/6/2026).
Kepala Desa Sumberrejo Akhmadi mengatakan, tradisi haul dilaksanakan secara istiqamah sebagai bentuk penghormatan kepada Mbah H Noloyudho. Diawali khatmil Al Qur’an pada Rabu (10/6/2026), dilanjutkan tahlil dan doa bersama, serta tausiyah agama yang disampaikan KH M Zainul Haq pada Kamis (11/6/2026) pagi WIB, dan Lailatul Hadrah Ishari sebagai penutup rangkaian Haul, Kamis malam WIB.
“Alhamdulillah, atas doa dan wasilah para sesepuh, mayoritas warga Sumberrejo sudah pernah menunaikan ibadah haji,” ungkap Akhmadi.
Dia lantas menuturkan, sosok Mbah H Noloyudho berdasarkan cerita yang diwariskan secara turun-temurun, meninggal dunia saat menunaikan ibadah haji di Tanah Suci Makkah dan dimakamkan di sana.
“Menurut cerita para sesepuh yang kami terima secara turun-temurun, Mbah H Noloyudho wafat di Makkah, dan dikebumikan di sana,” ucapnya.
Tidak hanya meninggalkan jejak berupa lahirnya sebuah desa, Mbah H Noloyudho juga diyakini mewariskan nilai-nilai keagamaan yang terus berkembang hingga kini.
Akhmadi menyebut, beberapa keturunan Mbah H Noloyudho kemudian menjadi tokoh agama yang berkiprah mendirikan pondok pesantren di beberapa daerah, bagian dari keberkahan yang diwariskan oleh Mbah H Noloyudho.
Sementara Sekretaris Desa Sumberrejo Mohammad Fachruddin menambahkan, penutupan rangkaian Haul melalui kegiatan Lailatul Hadrah Ishari merupakan bagian dari upaya melestarikan tradisi seni Islami, yang telah lama berkembang di tengah masyarakat Desa Sumberrejo.
Berdasarkan catatan sejarah desa, wilayah yang kini menjadi Desa Sumberrejo dahulu dikenal dengan nama Desa Penthoel. Nama tersebut diambil dari tanaman mangrove, yang banyak ditemukan saat kawasan pertama kali dibuka. Dikarenakan bunga tanaman mangrove memiliki bentuk menyerupai pentol, sehingga masyarakat kala itu menyebut wilayah tersebut sebagai Penthoel.
Saat itu kawasan belum berpenghuni, dengan Mbah H Noloyudho yang diyakini masih memiliki garis keturunan Wali Songo, kemudian membuka wilayah tersebut dan mendirikan sebuah padepokan silat. Lambat laun padepokan silat tersebut menarik minat banyak orang untuk datang dan menetap, sehingga kawasan yang semula sepi berkembang menjadi pusat aktivitas masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, jumlah penduduk terus bertambah dan desa semakin berkembang. Pada masa pemerintahan Kepala Desa Ustman, nama Desa Penthoel kemudian diubah menjadi Desa Sumberrejo. Nama ini mengandung harapan agar desa menjadi sumber kesejahteraan, kemakmuran, dan keberkahan bagi seluruh masyarakat setempat.


