Di bawah langit utara Gresik yang riuh oleh deru mesin pabrik dan aktivitas industri, sebuah warisan adiluhung justru tumbuh subur dan merawat akarnya dengan sunyi. Adalah Ki Ahmad Bagas Setiawan, seorang karyawan muda di Pabrik Produksi 2B Petrokimia Gresik, yang menjalani kehidupan ganda dengan ritme yang luar biasa. Baginya, peluit akhir pergantian shift kerja bukanlah tanda untuk lekas beristirahat. Masih mengenakan seragam kerja lengkap dengan sisa lelah yang membekas, langkah kakinya langsung berbelok menuju Sanggar Mahesa Kencana, tempat di mana ia menanggalkan statusnya sebagai pekerja industri dan bertransformasi menjadi seorang penjaga kebudayaan.
Di dalam sanggar yang sedikit tersembunyi dibalik rimbun pohon beringin, sebuah estafet budaya lintas generasi sedang dirajut dengan penuh ketelatenan. Bersama para pengrawit senior yang merupakan pensiunan karyawan Petrokimia Gresik, Ki Bagas meluangkan waktu berharganya untuk menempa tunas-tunas muda, salah satunya Kyano Renan Hanenda, dalang cilik kelas V MINU Tratee Putra yang sudah berani memegang cempurit sejak TK. Di tempat yang guyub ini, harmoni gamelan dan filosofi hidup diajarkan melampaui sekat usia. Menjelang malam puncak HUT ke-54 Petrokimia Gresik, ruang latihan ini menjadi saksi bisu bagaimana sebuah komitmen jangka panjang mampu membuktikan bahwa di tengah kepungan dunia digital dan modernitas industri, masa depan wayang kulit purwa tidak akan pernah redup di tangan generasi penerus.


