MINATBACA.com – Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) RI Meutya Viada Hafid memberikan apresiasi, sekaligus menitipkan harapan kepada para petani dan petambak di Kabupaten Lamongan, yang mulai menggunakan teknologi Artificial Intelligence of Things (AIoT) dalam menunjang kinerja mereka.

Dia mengatakan, meski sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan, secara keseluruhan telah menopang ekonomi Indonesia sebesar 12,61 persen, namun capaian ini masih perlu untuk ditingkatkan. Sehingga hadirnya AIoT yang menggabungkan sensor internet dan kecerdasan buatan untuk mengubah cara kerja pertanian dan budidaya tambak, dianggap lebih presisi, otomatis, dan efisien.

Menurut Meutya, kehadiran AIoT harus berdampak dan dirasakan oleh masyarakat, termasuk bagi para petani dan petambak di Kabupaten Lamongan. Ada tiga syarat utama supaya penerapan teknologi dapat berhasil yakni, terhubung (adanya konektivitas), tumbuh (koneksi dapat digunakan untuk hal produktif), dan terjaga (adanya edukasi).

“Dampak sementara yang dirasakan dari penggunaan teknologi ini di Lamongan adalah, berat badan ikan bertambah dan angka survival rate-nya naik,” ujar Meutya saat menghadiri Panen Raya di Desa Labuhan, Kecamatan Brondong, Lamongan, Selasa (3/11/2026).

“Saat ini petambak perempuan masih jarang. Mudah-mudahan AIoT ke depan menjadikan semakin banyak petani perempuan, karena teknologi ini ramah untuk perempuan. Kami titip untuk syarat terjaga yang terakhir, mohon alatnya digunakan dengan baik, dijaga dengan baik, kebahagiaan kami selaku pemerintah kalau melihat hasil dari kecerdasan artificial ini mendatangkan manfaat bagi petani kita di berbagai daerah,” terangnya.

Karno, salah seorang petambak yang hadir sempat menceritakan, dirinya belum satu tahun memperoleh bantuan venjet (alat untuk meningkatkan kadar oksigen pelarut dan mengurangi kadar amoniak) memanfaatkan teknologi AIoT. Dia mengatakan, pertumbuhan ikan yang dibudidaya menjadi lebih baik, dengan tingkat kematian ikan berkurang, dan mempengaruhi bobot ikan.

Mia Oktavia, salah seorang petambak perempuan yang hadir juga mengaku, tidak perlu berkali-kali melakukan pengecekan langsung ke tambak. Dari yang biasanya dua hingga tiga kali dalam sehari, kini dia hanya perlu sekali saja untuk memantau kondisi tambak berkat menggunakan teknologi AIoT.

“Dapat mengecek pH air, salinitas air, tingkat kematiannya juga berkurang, untuk pakan kami stabil. Ikan kerapu kecil sangat terbantu oksigennya. Efisien waktu juga, bisa dikontrol dari rumah. Intensitas turun ke tambak berkurang karena bisa dikontrol dari rumah, biasanya pagi kontrol, sore beri makan, malam kontrol oksigen, sekarang cukup satu kali ke lapangan,” kata Mia.

Mat Eskan, salah seorang petani yang menggunakan teknologi AIoT juga mengaku, kini tidak lagi hanya mengandalkan intuisi dalam mengontrol tanaman melon yang dibudidaya. Sebab dia terbantu oleh data real, dengan menggunakan smart fertigation (sistem otomatis pertanian yang menggabungkan proses irigasi dan pemupukan secara presisi).

“Saya senang sekali dengan alat ini karena bisa mengontrol pH tanah berapa, kandungan air berapa, sehingga bisa mengontrol melon saya. Biasanya memakai intuisi, sekarang lebih jelas menggunakan data (konkret, real),” beber Mat Eskan.

Bupati Lamongan Yuhronur Efendi yang turut hadir mendampingi Menkomdigi dalam kesempatan tersebut berharap, kemajuan teknologi pada sektor pertanian dan perikanan budidaya tersebut akan mampu memberi daya tarik bagi milenial muda.

“Adanya digitalisasi ini sangat menjadikan ketertarikan khususnya para milenial untuk bisa bertambak maupun bertani, karena dengan bantuan teknologi memudahkan mereka untuk lebih menyukai bidang pertanian dan perikanan,” tutur Pak Yes-sapaan Bupati Lamongan Yuhronur Efendi.

“Harapan kami ini dapat terus dikembangkan, karena ini memang benar-benar bermanfaat bagi masyarakat, sekaligus juga agar pertanian ini bisa terus berkelanjutan dengan produktivitas yang lebih baik,” ungkapnya.

Exit mobile version