GRESIK — Ajang bergengsi Pemilihan Cak & Yuk Cilik Berbakat Kabupaten Gresik sukses melahirkan talenta-talenta muda yang luar biasa. Tahun ini, posisi Top 3 Cak Cilik Berbakat berhasil diraih oleh Kyano Reynand Hanenda (Nomor Finalis 15, MINU Tratee Putra), Evanez Sachio Wilbert El Sakhi (Nomor Finalis 11, SDN 32 Gresik), dan Faeyza Athar Arsanta (SD Mugeb Primary School) dalam uji Bakat yang dilaksanakan di Gress Mall Gresik (31/10/2026).

Sementara itu, persaingan ketat di kategori Top 3 Yuk Cilik Berbakat diisi oleh Chelsea Mikayla Arsya (SD Mugeb Primary School), Maudy Adi Negara (SDN 4 Petrokimia Gresik), dan Maryam Annafi Bakhru (SD Muhammadiyah Manyar Gresik).

Di antara para finalis, penampilan Kyano Reynand Hanenda dengan nomor urut 15 berhasil mencuri perhatian besar. Perwakilan dari MINU Tratee Putra ini membawakan lakon wayang kulit bertajuk “Darmaning Harun Tohir”. Lakon ini digarap khusus agar selaras dengan tema ” Abhayaning Harun Tohir” yang diusung oleh panitia.

Secara filosofis, pertunjukan ini merupakan adaptasi dari kisah heroik gugurnya Raden Abimanyu yang bertarung hingga titik darah penghabisan. Kisah klasik tersebut secara apik dikontekstualisasikan untuk menggambarkan keberanian luar biasa dari Harun Tohir, pahlawan nasional asli Bawean, Gresik.

Hanya dalam waktu 3 menit, Kyano menyuguhkan pertunjukan super padat yang penuh dengan atraksi koprol wayang dan ditutup secara epik dengan adegan menaburkan bunga saat tokohnya terpanah—menyimbolkan gugurnya sang pahlawan dengan penuh kehormatan. Seluruh aksi teatrikal tersebut digarap memikat dengan iringan musik gamelan khas Banyuwangi.

Cak Kyano dalam uji bakat Cak Yuk Cilik Gresik 2026

Kepala Sekolah MINU Tratee Putra, Imron Rosadi, mengungkapkan rasa bangga sekaligus keyakinannya sejak awal kompetisi. “Sejak awal kami yakin kemampuan Kyano akan diapresiasi juri. Jarang sekali ada anak zaman sekarang yang menekuni dunia dalang wayang kulit hingga sudah pentas di mana-mana. Ini membuktikan bahwa Gen Alpha tidak lupa dengan budaya bangsa,” ujar Imron bangga.

Namun, di balik penampilan memukaunya, Kyano mengaku harus memeras keringat ekstra demi menaklukkan durasi yang sangat singkat dan keterbatasan teknis. Berbeda dengan pertunjukan wayang konvensional, kali ini ia harus tampil dengan iringan musik rekaman.

“Tampil 3 menit dengan iringan musik rekaman itu sangat susah karena biasanya saya tampil dengan gamelan langsung. Kalau langsung, dalang yang mengatur musiknya; mau dibawa cepat atau lambat, dalang yang menentukan,” kata Kyano.

Sistem lakon padat dengan tempo kilat ini mengingatkan pada gaya mendiang maestro Ki Manteb Soedharsono saat memperjuangkan wayang kulit hingga diakui sebagai warisan dunia oleh UNESCO—momen bersejarah yang juga akan diperingati minggu depan sebagai Hari Wayang Dunia.

Exit mobile version