MINATBACA.com – Hidup lebih baik akhirnya dapat dirasakan sebanyak 35 warga Desa Pulopancikan, Kecamatan/Kabupaten Gresik.
Pasalnya, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Gresik bersama PT Sarana Multigriya Finansial (SMF), meresmikan sekaligus menyerahkan 35 unit Rumah Layak Huni (RLH) bagi Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR). Bagian dari upaya percepatan pengentasan kemiskinan ekstrem, sekaligus penataan kawasan permukiman perkotaan di Kabupaten Gresik, Kamis (21/5/2026).
Hadir dalam kesempatan tersebut, Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Gresik Achmad Washil Miftahul Rachman, Direktur Keuangan dan Manajemen Risiko PT SMF Bonai Subiakto, Kepala Balai Pelaksana Penyediaan Perumahan dan Kawasan Permukiman Jawa IV Enfy Diana Dewi, serta Kepala Bappeda Kabupaten Gresik Edy Hadi Siswoyo.
Sebelum acara peresmian dimulai, Washil sempat meninjau beberapa rumah penerima manfaat, serta menyaksikan perubahan kondisi hunian warga yang sebelumnya kerap terdampak banjir, akibat posisi rumah yang rendah. Bahkan para penerima manfaat, bertahun-tahun hidup dengan ancaman atap bocor, banjir, hingga rumah sempit yang berhimpitan.
“Saya melihat langsung rumah-rumah warga yang sebelumnya sering bocor dan tergenang saat hujan. Sekarang rumahnya sudah lebih aman, sehat, dan nyaman di tempati. Ini bukan sekadar pembangunan fisik, tetapi bentuk nyata kehadiran negara untuk masyarakat,” ujar Washil.
Menurut Washil, program rumah layak huni tersebut merupakan hasil sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan sektor korporasi, dalam mendukung program nasional penyediaan tiga juta rumah yang menjadi bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.
Washil menjelaskan, Desa Pulopancikan memang menjadi salah satu kawasan prioritas revitalisasi permukiman sejak tahun 2017 dengan berbagai pembenahan dilakukan secara bertahap. Mulai dari pembangunan drainase, jalan lingkungan, sanitasi, akses air bersih, pengelolaan limbah, hingga penataan bangunan dan persampahan.
“Pulopancikan ini kawasan strategis, sekaligus kawasan heritage. Karena itu, penataannya tidak hanya memperbaiki rumah warga, tetapi juga menjaga wajah kawasan bersejarah Kabupaten Gresik agar lebih tertata dan layak,” jelasnya.
Berkat penataan kawasan yang dilakukan secara berkelanjutan, Pemkab Gresik juga memperoleh dukungan pemerintah pusat. Salah satu di antaranya, pembangunan rumah pompa untuk mengurangi dampak genangan rob di kawasan tersebut.
Kendati demikian, Washil mengaku, tantangan untuk penanganan rumah tidak layak huni di Kabupaten Gresik masih cukup besar. Saat ini, masih terdapat hampir 5.000 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) yang masuk dalam basis data kemiskinan ekstrem desil 1 dan desil 2.
Adapun pada tahun 2026, Dinas Cipta Karya, Perumahan, dan Kawasan Permukiman (DCKPKP) telah mendata sekitar 647 unit rumah prioritas. Sebanyak 246 unit direncanakan ditangani melalui PAPBD 2026, sementara 401 unit lainnya akan dilanjutkan pada APBD 2027.
“Kami berharap, kolaborasi bersama PT SMF dan Balai Penyediaan Perumahan dapat terus berlanjut, agar semakin banyak masyarakat yang bisa merasakan manfaat rumah layak huni,” imbuhnya.
Sementara Edy menjelaskan, pembangunan 35 unit RLH di Desa Pulopancikan menelan anggaran sekitar Rp1,25 miliar, yang seluruhnya bersumber dari dana Corporate Social Responsibility (CSR) PT SMF Tahun Anggaran 2025. Dengan rata-rata bantuan per rumah sebesar Rp35,9 juta, proses pembangunan dilakukan selama empat bulan atau 120 hari kalender, dengan konsep swakelola berbasis partisipasi masyarakat.
“Program ini melibatkan Badan Keswadayaan Masyarakat (BKM) dan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM). Jadi warga ikut terlibat dalam proses pembangunan, sehingga tumbuh rasa memiliki dan tanggung jawab bersama terhadap lingkungan tempat tinggalnya,” terang Edy.
Bagi warga penerima manfaat, perubahan yang terjadi pada rumahnya membawa rasa syukur yang sulit digambarkan. Salah seorang penerima bantuan, Titik (60) mengaku, kini tidak lagi khawatir rumahnya kebanjiran saat turun hujan.
“Dulu rumah saya sering kebanjiran kalau hujan, sekarang rumahnya sudah ditinggikan jadi tidak banjir lagi. Alhamdulillah sekarang juga sudah punya tembok sendiri, tidak menempel lagi dengan rumah sebelah. Saya sangat berterima kasih,” kata Titik.
Selain meningkatkan kualitas hidup masyarakat, revitalisasi kawasan Pulopancikan juga dinilai strategis, karena berada di kawasan heritage yang berdekatan dengan Bandar Grissee, Kampung Arab, dan Kampung Pecinan. Penataan hunian warga diharapkan dapat memperkuat identitas sejarah Kabupaten Gresik, sekaligus mampu menciptakan lingkungan permukiman masyarakat yang lebih sehat, aman, dan tertata.


